-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menikmati Soto Senja dan Drama ‘Sang Nyai’ di Watu Lumbung Bantul

    28/07/23, 13:10 WIB Last Updated 2023-07-28T06:10:02Z

    Bantul, Kabar Jogja – Vakum selama pandemi Covid-19, Wisata Edukasi Watu Lumbung, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul memulai kebangkitannya dengan menyajikan soto senja dan berbagai kuliner desa bercita rasa khas. Kehadiran pembacaan naskah drama (dramatic reading) ‘Sang Nyai’ menjadi pembeda yang menghadirkan kenangan.


    Berada di atas bukit Watu Lumbung di sisi selatan Sungai Opak, pengunjung disuguhi pemandangan aliran sungai dari timur ke barat dan melintasi jembatan di sisi utara.  Di area selatan, hamparan sawah sesudah tempat pemungutan retribusi (TPS) Pantai Parangtritis seperti hamparan permadani nan hijau.


    Pengelola Muhammad Boy Rifai atau Mbah Boy mengatakan usai pandemi yang menghentikan aktivitas di tempatnya. Dirinya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, salah satunya adalah berganti nama menjadi ‘New Alas Watu Lumbung’.


    “Penamaan baru ini menjadikan tempat ini seperti menghadirkan energi alam yang berbeda dari sebelumnya. Saya bahagia alam berbahagia bersama saya. Alam berkomunikasi dengan kami dengan memberikan hasil alam yang berlimpah,” katanya Jumat (27/7) petang.


    Dihadirkan terbuka dengan alam, di meja dan kursi yang ditempatkan secara acak pengunjung bisa menikmati berbagai menu tradisional seperti soto senja yang menghadirkan kuatnya rasa rempah-rempah, ada bubur ndeso khas Desa Parangtritis, tengkleng kepala kambing dan banyak menu lainnya.


    Kemudian minuman khas seperti teh daun kelor dan wedang uwuh madu hutan menjadi sajian yang tidak bisa ditawar lagi untuk menikmati acara makan di tengah alam.


    “Tapi yang menjadi esensi New Watu Lumbung adalah proses belajar dengan alam. Kami ingin menghadirkan edukasi kepada pengunjung bagaimana alam memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang kita perbuat,” jelasnya.


    Untuk berbagai menu yang disajikan, Mbah Boy menyatakan bahan bakunya berasal dari apa yang semuanya ditanam di lingkungan Watu Lumbung. Di sana pohon kelor, sayur mayur, sorgum dan lain-lain tumbuh subur.


    Tak hanya itu, menjadikan wisatawan asing yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta juga dinilai menjadi strategis ampuh. Kepada mereka, Mbah Boy mengatakan akan mengajak mereka untuk hal merasakan berbagai makanan tradisional Yogyakarta untuk beradaptasi.


    Di Jumat petang, Mbah Boy sengaja menghadirkan sebuah pentas sederhana yang ditampilkan di panggung terbuka berlatar belakang kelokan Sungai Opak. Pembacaan naskah drama karya sastrawan Budi Sardjono berjudul ‘Sang Nyai’.


    Lusi Sulistyowati, satu dari empat pembaca naskah drama, mengatakan naskah yang dibacakan selama 45 menit tersebut menceritakan tentang sosok Ratu Laut Kidul penguasa lautan selatan Jawa.


    “Mas Budi membawa Nyai Roro Kidul dalam kehidupan sosial di kawasan pesisir selatan. Kehadiran perempuan dalam sebuah kisah percintaan mistik tapi indah. Saat membawakannya, saya seperti terpengaruh kekuatan lain,” ujarnya.


    Budayawan Bantul, Nasruddin Anshori atau Gus Nas mengatakan pementasan ‘Sang Nyai’ tepat dihadirkan di awal bulan Muharram.


    “Mitos Sang Nyai disini dihadirkan dalam beragam karakter perempuan mulai dari penjaja makanan, penjual kondom, sampai penyewa kamar penginapan. Padahal sosok Sang Nyai sejak dulu dipercaya sebagai istri dari para raja-raja Mataram,” jelasnya.


    Namun dengan mengubah Sang Nyai dalam berbagai sosok perempuan ini menandakan dalam kehidupan ini peran dan keberadaan perempuan sangat penting sehingga tidak boleh dilupakan. (Tio)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close