-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Soal Sanksi, Pakar Epidemiologi: Lebih Baik Fokus Pemenuhan Vaksin

    18/02/21, 19:35 WIB Last Updated 2021-02-18T12:35:47Z


    Sleman, Kabar Jogja - Saat ini terjadi perdebatan di masyarakat soal ancaman sanksi administratif dan sanksi pidana bagi warga masyarakat yang menolak disuntik vaksin covid-19. 


    Sanksi tersebut muncul pascakeluarnya Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Covid-19. Di Perpres tersebut disebutkan sanksi jika ada warga yang menolak vaksinasi.

     

    Menangapi hal tersebut, Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama, S.Ked., MPH., mengatakan dirinya tidak sepakat jika adanya sanksi untuk vaksin sebab komunikasi dan edukasi soal perlunya vaksin untuk penanggulangan covid-19 juga belum maksimal dilakukan oleh pemerintah. 


    "Saya termasuk yang kurang setuju ada denda untuk vaksin karena usaha komunikasi dan edukasi pemerintah belum terlihat maksimal," kata Bayu Satria, kamis (18/2).


    Menurut Bayu yang perlu dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah mempersiapkan ketersediaan vaksin sebanyaknya mungkin untuk semua lapisan masyarakat bisa mendapatkannya. "Yang paling utama tetap ketersediaan vaksin dulu," paparnya.


    Ia sepakat dengan usulan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, bagi mereka yang menolak disuntik vaksin pada saat ini sebaiknya dimundurkan saja jadwal mereka untuk menerima vaksin sambil dilakukan edukasi dan memvaksinasi orang lain yang dianggap lebih membutuhkan. 


    "Ya sudah dimundurkan ke periode paling akhir. Tujuannya mungkin bisa berubah ketika makin lama melihat mereka yang divaksin lebih banyak sekali efek positifnya daripada yang negatif," paparnya


    Soal target pemerintah untuk menuntaskan vaksinasi bisa tuntas hingga akhir tahun ini, menurut  Bayu melihat ketersediaan vaksin sekarang ini, target pemerintah tersebut akan sulit dicapai apalagi belum diikuti usaha untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam jumlah banyak. 


    "Kalau tidak ada usaha sangat besar untuk memenuhi kebutuhan saya kira akan sulit karena untuk tahap dua saja kita masih kurang tersedia vaksinnya," pungkasnya.(rls)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini