-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Trah Diponegoro Gelar Wayangan Peringati Hari Pahlawan

    16/11/19, 17:58 WIB Last Updated 2019-11-16T10:58:58Z

    YOGYAKARTA – Sejarah pertempuran sengit dalam perang Diponegoro 1825-1930 merupakan perang terbesar selama kependudukan Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara. Bendara Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro merupakan sosok sentral sebagai pemimpin perang melawan pasukan Belanda di bawah Hendrik Merkus de Lock.

    Perang Diponegoro atau juga disebut perang Jawa menelan korban nyawa hingga ribuan, dengan akhir kisah Pangeran Diponegoro dijebak dalam perundingan oleh Belanda. Sejarah besar perjuangan Pangeran Diponegoro bersama pasukannya tersebut terkisahkan dalam lakon Perang Jawa yang digelar oleh Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi), bertempat di Ndalem Yudhanegaran, Yogyakarta, Selasa (12/11/2019).

    Rahadi Saptata Abra dari keluarga Patra Padi, yang juga Ketua panitia pertunjukan wayang tersebut, menjelaskan karena besarnya makna cerita yang terkandung di babad tersebut, ia merasa masyarakat perlu mendapatkan informasi inspiratif tersebut. Media yang digunakannya melalui wayang kulit.

    “Terkait perang Jawa misalnya, hal itu sebenarnya tidak sesederhana bahwa Diponegoro marah karena tanah leluhurnya diganggu Belanda. Tetapi ada latar belakang lain yang sudah lama, sehingga perang itu kemudian harus dilakukan,” ucapnya.

    Menceritakan di babad salah satunya dengan wayang yang sudah dimainkan 11 kali di berbagai kota. Babad Diponegoro menceritakan banyak hal yang inspiratif. “Wayang kulit ini mengangkat dari sisi apa latar belakang perang Jawa, semangat Diponegoro sampai lima tahun perang tanpa ampun, ini tidak menyerah tetapi dijebak Belanda. Lewat wayang lebih mudah dicerna,” ujarnya.

    Kisah kronologi dan perjalanan peperangan secara detil diceritakan di babad tersebut. Wayangan juga digelar untuk memperingati hari pahlawan dan hari lahir Pangeran Diponegoro ke-234 yang jatuh setiap 11 November.

    Menurut Rahadi, meskipun zaman sudah banyak berubah, namun Pangeran Diponegoro tetap menjadi sosok yang inspiratif. Salah satunya, ia termasuk taat hukum dan piawai dalam hal tata negara. Hal itu dibuktikan ketika Pangeran Diponegoro meminta pertimbangan dari ulama berusia tua dan muda untuk diminta pendapat tentang perang yang ia lakoni selama bertahun-tahun. Selama ini masyarakat mungkin hanya mengetahui cerita Pangeran Diponegoro dari buku-buku dengan berbagai versi. Sedangkan kisah dalam babad tersebut, ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro.

    “Ini diakui Unesco sebagai satu diantara tiga sumber tulis yang masuk memory of the world. Hari ini kami pentaskan di Ndalem Yudhanegaran, kebetulan yang ke-12 kali,” ungkapnya.


    Dalam kisah wayang tersebut, dikisahkan bagaimana latarbelakang Diponegoro yang merupakan anak laki-laki pertama Sultan HB III meski bukan dari permaisuri. Kemudian dijelaskan pula ketika HB I memprediksi bahwa Diponegoro yang memiliki nama lahir BRM Mustahar ini akan membuat kekacauan lebih besar untuk Belanda di kemudian hari.

    Harapannya, masyarakat bisa lebih mudah mempelajari tentang sejarah Diponegoro secara menyeluruh. “Bagaimana semangat beliau bisa diteladani, seperti bagaimana ia pantang menyerah saat perang lima tahun dan saat ia tetap taat dengan hukum negara serta agama,” katanya.


    Pangeran Diponegoro sendiri diketahui memiliki delapan orang istri dan 22 anak yang saat ini menyisakan 17 yang diketahui garis keturunannya. Adapun Trah Pangeran Diponegoro sendiri saat ini berjumlah ribuan orang yang tersebar di berbagai Kota.(dho)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close