-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Apa Itu Obesitas dan Apa Penyebabnya?

    13/04/21, 20:46 WIB Last Updated 2021-04-13T13:51:00Z


    Kabar Jogja – Mengenal obesitas dapat membantu kita untuk lebih mengurangi risiko-risikonya. Selain bisa meraih kondisi yang sehat, ukuran atau berat badan tubuh pun bisa tetap berjaga. Lalu, apa itu obesitas dan apa saja yang menyebabkannya? 

    Obesitas adalah suatu kondisi medis yang terjadi ketika seseorang memiliki kelebihan berat badan atau lemak tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Seorang dokter biasanya akan menyatakan seseorang mengalami obesitas jika memiliki indeks massa tubuh yang tinggi.

    Indeks massa tubuh (BMI) adalah alat yang digunakan dokter untuk menilai apakah seseorang memiliki berat badan yang sesuai untuk usia, jenis kelamin, dan tinggi badannya. Pengukuran tersebut menggabungkan tinggi dan berat badan.

    BMI antara 25 dan 29,9 menunjukkan bahwa seseorang mengalami kelebihan berat badan. BMI 30 atau lebih, menunjukkan bahwa seseorang mungkin mengalami obesitas.

    Faktor lain, seperti rasio ukuran pinggang-pinggul (WHR), rasio pinggang-tinggi-tinggi (WtHR), serta jumlah dan distribusi lemak pada tubuh juga berperan dalam menentukan seberapa sehat berat badan seseorang dan bentuk tubuh sedang.

    Jika seseorang mengalami obesitas dan kelebihan berat badan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena sejumlah kondisi kesehatan, termasuk sindrom metabolik, artritis, dan beberapa jenis kanker.

    Sindrom metabolik mengakibatkan sekumpulan masalah, seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

    Menjaga berat badan yang sehat atau menurunkan berat badan melalui pola makan dan olahraga merupakan salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi obesitas. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin memerlukan pembedahan.

    Mengapa obesitas terjadi? Dikutip dari medical news today, ada beberapa penyebabnya. Simak daftar berikut.

    1) Mengkonsumsi terlalu banyak kalori

    Ketika seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang mereka gunakan sebagai energi, tubuh mereka akan menyimpan kalori ekstra sebagai lemak. Hal ini dapat menyebabkan berat badan berlebih dan obesitas.

    Selain itu, beberapa jenis makanan lebih cenderung menyebabkan penambahan berat badan, terutama yang tinggi lemak dan gula. Makanan yang cenderung meningkatkan risiko penambahan berat badan antara lain:

    • makanan cepat saji
    • gorengan, seperti kentang goreng
    • daging berlemak dan olahan
    • banyak produk susu
    • makanan dengan tambahan gula, seperti makanan yang dipanggang, sereal sarapan siap pakai, dan kue
    • makanan yang mengandung gula tersembunyi, seperti saus tomat dan banyak makanan kaleng dan kemasan lainnya
    • jus manis, soda, dan minuman beralkohol
    • makanan olahan, tinggi karbohidrat, seperti roti

    Beberapa produk makanan olahan mengandung sirup jagung fruktosa tinggi sebagai pemanis, termasuk makanan gurih, seperti saus tomat.

    Makan terlalu banyak makanan ini dan melakukan terlalu sedikit olahraga dapat menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas.

    Seseorang yang mengonsumsi makanan yang sebagian besar terdiri dari buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan air masih berisiko mengalami kenaikan berat badan jika mereka makan berlebihan, atau jika faktor genetik, misalnya, meningkatkan risikonya.

    Akan lebih baik cenderung menikmati makanan yang bervariasi sambil mempertahankan berat badan yang sehat. Makanan segar dan biji-bijian mengandung serat, yang membuat seseorang merasa kenyang lebih lama dan mendorong pencernaan yang sehat.

    2) Gaya hidup yang tidak banyak bergerak

    Banyak orang menjalani gaya hidup yang lebih tidak banyak bergerak daripada orang tua dan kakek-nenek mereka. Contoh kebiasaan menetap meliputi:

    • bekerja di kantor daripada melakukan pekerjaan manual
    • bermain game di komputer daripada melakukan aktivitas fisik di luar
    • pergi ke suatu tempat dengan mobil daripada berjalan kaki atau bersepeda

    Semakin sedikit seseorang bergerak, semakin sedikit kalori yang dibakar. Selain itu, aktivitas fisik memengaruhi cara kerja hormon seseorang, dan hormon memengaruhi cara tubuh memproses makanan.

    Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat membantu menjaga tingkat insulin tetap stabil dan tingkat insulin yang tidak stabil dapat menyebabkan penambahan berat badan.

    Para peneliti yang menerbitkan reviewTrusted Source di BMJ Open Sport and Exercise Medicine pada tahun 2017 mencatat bahwa, sementara desain beberapa penelitian menyulitkan untuk menarik kesimpulan yang tepat, “Gaya hidup yang menggabungkan (aktivitas fisik) teratur telah diidentifikasi sebagai faktor kunci untuk mempertahankan dan meningkatkan banyak aspek kesehatan, termasuk sensitivitas insulin. "

    Aktivitas fisik tidak perlu latihan di gym. Pekerjaan fisik, berjalan atau bersepeda, menaiki tangga, dan tugas rumah tangga semuanya berkontribusi.

    3) Kurang tidur

    Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan risiko bertambahnya berat badan dan meningkatkan risiko obesitas.

    Peneliti melakukan peninjauan terhadap lebih dari 28.000 anak-anak dan 15.000 orang dewasa di Inggris dari 1977 hingga 2012. Pada 2012, mereka menyimpulkan bahwa kurang tidur secara signifikan meningkatkan risiko obesitas pada orang dewasa dan anak-anak.

    Tim peneliti menyebutkan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan obesitas karena dapat menyebabkan perubahan hormonal yang meningkatkan nafsu makan.

    Ketika seseorang tidak cukup tidur, tubuhnya memproduksi ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan. Di saat yang sama, kurang tidur juga menurunkan produksi leptin, hormon yang menekan nafsu makan.

    4) Pengganggu endokrin

    Sebuah tim dari Universitas Barcelona menerbitkan sebuah studiTrusted Source di World Journal of Gastroenterology yang memberikan petunjuk tentang bagaimana fruktosa cair - sejenis gula - dalam minuman dapat mengubah metabolisme energi lipid dan menyebabkan perlemakan hati dan sindrom metabolik.

    Ciri-ciri sindrom metabolik termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular, dan tekanan darah tinggi. Orang dengan obesitas lebih cenderung mengalami sindrom metabolik.

    Setelah memberi makan tikus larutan fruktosa 10 persen selama 14 hari, para ilmuwan mencatat bahwa metabolisme tikus tersebut mulai berubah.

    Para ilmuwan percaya ada hubungan antara konsumsi fruktosa yang tinggi dan obesitas dan sindrom metabolik. Penelitian pada hewan menemukan bahwa ketika obesitas terjadi karena konsumsi fruktosa, ada juga kaitan erat dengan diabetes tipe 2.

    Pada 2018, peneliti menerbitkan hasil investigasi yang melibatkan tikus muda. Mereka pun mengalami perubahan metabolisme, stres oksidatif, dan peradangan setelah mengonsumsi sirup fruktosa. Para peneliti mencatat bahwa "peningkatan asupan fruktosa mungkin merupakan prediktor penting dari risiko metabolik pada orang muda."

    Mereka menyerukan perubahan pola makan anak muda untuk mencegah masalah ini dengan menghindari sirup jagung fruktosa tinggi. Makanan yang mengandung sirup jagung fruktosa tinggi meliputi:

    • soda, minuman berenergi, dan minuman olahraga
    • permen dan es krim
    • krimer kopi
    • saus dan bumbu, termasuk saus salad, saus tomat, dan saus barbekyu
    • makanan manis, seperti yogurt, jus, dan makanan kaleng
    • roti dan makanan panggang siap pakai lainnya
    • sereal sarapan, batang sereal, dan batang "energi" atau "nutrisi"

    5) Pengobatan dan penambahan berat badan

    Beberapa obat juga dapat menyebabkan penambahan berat badan.

    Hasil tinjauan dan meta-analisisTrusted Source yang diterbitkan dalam The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism pada 2015 menemukan bahwa beberapa obat menyebabkan orang bertambah gemuk selama beberapa bulan.

    • antipsikotik atipikal, terutama olanzapine, quetiapine, dan risperidone
    • antikonvulsan dan penstabil suasana hati, dan khususnya gabapentin
    • obat hipoglikemik, seperti tolbutamide
    • glukokortikoid digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis
    • beberapa antidepresan


    Namun, beberapa obat dapat menyebabkan penurunan berat badan. Siapa pun yang memulai pengobatan baru dan mengkhawatirkan berat badannya, harus bertanya kepada dokter apakah obat tersebut mungkin berpengaruh pada berat badan.


    6) Apakah obesitas berlangsung lama?


    Semakin lama seseorang kelebihan berat badan, semakin sulit bagi mereka untuk menurunkan berat badan.


    Temuan studi tikus, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2015, menunjukkan bahwa semakin banyak lemak yang dibawa seseorang, semakin kecil kemungkinan tubuh untuk membakar lemak, karena protein, atau gen, yang dikenal sebagai sLR11.


    Tampaknya semakin banyak lemak yang dimiliki seseorang, semakin banyak sLR11 yang dihasilkan tubuh mereka. Protein menghalangi kemampuan tubuh untuk membakar lemak, sehingga lebih sulit untuk melepaskan berat badan ekstra.


    7) Gen obesitas


    Gen yang salah yang disebut gen yang berhubungan dengan massa lemak dan obesitas (FTO) bertanggung jawab atas beberapa kasus obesitas. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2013 menunjukkan hubungan antara gen ini dan:


    • kegemukan
    • perilaku yang menyebabkan obesitas
    • asupan makanan yang lebih tinggi
    • preferensi untuk makanan berkalori tinggi
    • kemampuan yang terganggu untuk merasa kenyang, yang dikenal sebagai rasa kenyang


    Hormon ghrelin memainkan peran penting dalam perilaku makan. Ghrelin juga mempengaruhi Sumber Terpercaya pelepasan hormon pertumbuhan dan bagaimana tubuh mengakumulasi lemak, di antara fungsi-fungsi lainnya.


    Kesimpulan


    Banyak faktor yang berperan dalam perkembangan obesitas. Ciri genetik dapat meningkatkan risiko pada beberapa orang.


    Pola makan sehat yang banyak mengandung makanan segar, ditambah dengan olahraga teratur, akan mengurangi risiko obesitas pada kebanyakan orang.


    Namun, mereka yang memiliki kecenderungan genetik mungkin merasa lebih sulit untuk mempertahankan berat badan yang sehat.(dho)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini