• Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Layanan Bus dari Jakarta ke Yogyakarta Berhenti

    31/03/20, 11:26 WIB Last Updated 2020-03-31T04:26:35Z


    Yogyakarta – Sebagian besar karyawan dari Perusahaan Otobus  (PO) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk sementara dirumahkan karena berhenti beroperasinya layanan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Pariwisata mulai Senin (30/3). Mereka pun diberikan insentif yang bermacam dari perusahaannya, seperti beras untuk bertahan hidup.

    Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY Adi Didit Prasetyo mengatakan untuk yang bus AKAP dan Pariwisata berangkat dari Jakarta ke daerah masing-masing berhenti beroperasi mulai Selasa (31/3).

    Sedangkan untuk bus Pariwisata sudah sekitar satu bulan lalu tidak beroperasi sejak ada imbauan dari Menteri Pendidikan Nadiem yang salah satu poinnya yakini studi wisata atau studi tour sementara dilarang karena ada ancaman wabah virus Corona Covid-19.

    “Kalau untuk di DIY angkutan pariwisata ada sekitar 27 PO terdiri dari 581 unit armada. Sedangkan AKAP ada sekitar 10 PO, kisaran 300 armada. Total ada sekitar 40 PO dengan seribuan armada, semuanya stop,” kata Didit saat dihubungi melalui telepon pada Senin (30/3).

    Didit mencontohkan berhenti sementara operasional ini dilakukan oleh PO Maju Lancar, salah satu perusahaan otobus di Gunungkidul yang memiliki sekitar 75 armada. Para karyawan sementara dirumahkan sampai Jumat (6/4).

    “Untuk Maju Lancar mulai hari ini sudah tidak ada keberangkatan sampai tanggal 6 (April) mendatang. Karyawan sementara kami rumahkan dan diberi insentif beras. Kalau untuk karyawan dari perusahaan lainnya tergantung dari kekuatan finansial masing-masing perusahaan,” kata pria yang juga sebagai Direktur Operasional PO Maju Lancar ini.

    Didit mengatakan berhentinya operasional ini khusus perusahaannya juga karena pertimbangan moral. Memberikan waktu kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan warga setempat untuk siap menerima para perantau pulang.

    “Kondisi saat ini setiap perantau yang datang ditanya surat kesehatannya, itu kan harus dites tenaga medis yang berkompeten. Karena beberapa warga di desa ada yang menolak kedatangan perantau ang pulang. Jadi kami menjaga situasi saat ini. Kami maklumi warga asli juga butuh ketenangan supaya tidak tertular Covid-19,” katanya.

    Didit berharap adanya perhatian dari pemerintah salah satunya realisasi penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada industri angkutan. Kemudian juga mengenai kelonggaran angsuran atau kredit yang supaya diimplementasikan sesuai arahan dari Presiden dan Ototritas jasa Keuangan (OJK). “Okupansi sudah turun sekitar 80 sampai 90 persen untuk AKAP sejak bulan ini, sedangkan Pariwisata sudah sejak bulan lalu,” ucapnya.(dho)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Wisata

    +