-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Di Yogyakarta, Cak Imin Ingatkan Netralitas dan Bertemu Luhut

    29/01/24, 20:32 WIB Last Updated 2024-01-29T13:32:00Z


     Yogyakarta, Kabar Jogja - Cawapres Muhaimin Iskandar minta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersikap netral sesuai desakan arus bawah. Sebelumnya, saat berkampanye, dirinya berjanji akan segera bertemu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan untuk adu data soal tambang.


    “Pengurus NU seharusnya netral. Yang penting warga NU amin. Enggak ada arah-arahan, karena sebelum saya lahir. Saya sudah NU,” tegasnya, Senin (29/1).

    Dirinya tegas meminta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) netral dan warga NU mendukung AMIN.


    Berkampanye di Kota Yogyakarta, Senin (29/1), Cak Imin menyebut massa yang berkumpul hari ini merupakan perpaduan dan wujud kesatuan umat Nahdlatul Ulama-Muhammadiyah.


    “Mereka adalah warga, bukan pengurus. Ini sangat luar biasa dan menjadi potensi kebersamaan rakyat Yogyakarta. Karena memang selama ini NU dan Muhammadiyah terus berbeda-beda, ini adalah kekuatan yang akan membuat AMIN menang,” katanya.


    Kepada masyarakat Yogyakarta, Cak Imin meminta mengawal perolehan suara karena disinyalir salah satu pasangan tengah memobilisasi kepala desa untuk mendulang suara atau dikriminalisasikan.


    Terkait pertemuan dengan Menteri Luhut, Cak Imin menganggap perlu karena dirinya melihat kerusakan alam akibat pertambangan oleh segelintir orang masih terus dilakukan.


    “Saya dan Pak Lembong (Tom Lembong) akan bertemu pak Luhut, tinggal menunggu waktunya. Katanya mau adu data soal tambang, tentang maslahat dan mudharatnya tambang,” kata Cak Imin.


    Contoh nyata semakin hari semakin terbuka adalah penambangan nile yang dikelola habis-habisan beberapa tahun terakhir. Sehingga menyebabkan harga nikel dunia ambles.


    Dampaknya, Cak Imin menyebut saat ini cadangan nikel Indonesia hanya bertahan sampai lima belas tahun kedepan. Sehingga anak cucu membutuhkan nikel, maka harus mengimpor dari luar negeri. Kondisi ini disebutnya kemudharatan.


    “Yang sabar dong. Kita membutuhkan pembangunan yang berkeadilan yang menjaga kelestarian alam dan yang terpenting anak cucu dipikirkan. Keadilan antar generasi saya, ini adalah kemaslahatan,” tegasnya. (Tio)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close