-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Meramu Pangan, Tema Besar Parade Teater Yogyakarta Tahun Keenam

    16/10/23, 16:02 WIB Last Updated 2023-10-16T09:02:50Z

     

    Yogyakarta, Kabar Jogja – Menjadi tahun keenam, Parade Teater Yogyakarta Linimasa tahun ini mengangkat tema besar tentang ketahanan pangan. Bertajuk ‘Meramu’, sebanyak enam kelompok teater yang sudah lolos kurasi akan tampil dalam tiga malam.


    Ketua UPT Taman Budaya Yogyakarta Purwianti menerangkan Parade Teater Yogyakarta-Linimasa merupakan parade teater tahunan yang digelar pihaknya. Tahun ini parade teater akan digelar mulai 18-20 Oktober.  


    “Melalui fasilitasi Dana Keistimewaan parade teater Yogyakarta ini diharapkan menjadi menjadi salah satu program pengembangan teater berbasis kelompok yang ada di Yogyakarta,” katanya Senin (16/10).


    Seperti tahun sebelumnya parade teater ini terbuka untuk seluruh kelompok teater yang ada di DIY dengan cara mendaftarkan seleksi melalui konsep pemanggungan lewat proposal.


    Berbagai macam jenis seni pertunjukan dari berbagai genre baik drama, eksperimental, teater tubuh, post dramatik, teater media baru, baik yang bersifat intermedia maupun kolaborasi interdisiplin.


    Tahun ini ada 38 proposal yang masuk kemudian dikurasi oleh tim kurator diputuskan 6 kelompok seni pertunjukan terpilih yang memang sebelumnya pernah mendapatkan fasilitasi yang sama dari Dana Keistimewaan.


    “Proses kurasinya luas biasa karena kami ingin menghilangkan persepsi yang selama muncul bahwa pemenang yang tampil hanya itu-itu saja. Proses kurasi bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.


    Karena bukan bersifat kompetisi, Pur menyatakan pihaknya tidak menyediakan untuk dana sebagai hadiah. Namun setiap proposal yang dinyatakan lolos mendapatkan dana pendampingan.


    Tim Kurator sekaligus Dosen Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Koes Yuliadi menyebut ‘Meramu’ menjadi tema besar sebagai dialektika dalam membaca respon atas fenomena.


    “Ketika teater hari ini menjadi bagian dari dialektika itu, ada proses meramu dalam skala produksi disana. Saat ini pangan sedang menjadi isu aktual yang barangkali terselip teks teks yang melahirkan kemungkinan dijadikan artikulasi yang ekspresif,” terangnya.


    Sebagai urusan yang fundamental bagi manusia, pangan bukan urusan asing jika diuraikan sebagai teks pertunjukan. Namun, ada kemampuan lain bernama interpretasi bagaimana memahami soal pangan sebagaimana proses meramu menjadi artikulasi ekspresif hari ini.


    Anggota tim kurator Ellyandra Widharta menerangkan teater sebagai pertunjukan yang bersinggungan dengan soal pangan. Beberapa kelompok teater menjelajahi dan bereksperimen dengan teks-teks pangan.


    “Sementara pangan memiliki jangkauan sub-sub irisan lainnya seperti gastronomi, herbal, jamu, pranata mangsa, arsip resep, kuliner, teknologi pangan dan lainnya,” ucapnya.


    Diterangkan berbagai kelompok sedang memacu gagasannya tentang pangan dan sedang mengajak lainnya untuk melihat proses meramu itu. Ramuan apa saja yang sedang dan akan dibuat bahkan akan menjadi apa? Penonton akan diajak menyelami dari sudut pandang lain tentang pangan. (Tio)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close