-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Geliat Desa-desa Bantul Mewujudkan Mandiri Kelola Sampah

    09/08/23, 14:37 WIB Last Updated 2023-08-09T07:37:59Z

    Bantul, Kabar Jogja – Jauh hari sebelum penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan ditutup. Desa-desa di Bantul telah menginisiasi program pengelolaan sampah mandiri.


    Hasilnya, beberapa desa mampu mengelola sampah dan memutus ketergantungan pada TPST Piyungan. Meski terkesan baru, namun keberhasilan yang diraih mampu menyadarkan warga akan bahaya sampah dan nilai-nilai ekonomisnya.


    Salah satu contoh kemandirian sampah dilakukan Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak melalui tempat pengelolaan sampah terpadu yang dikerjakan bersama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.


    Kepala Desa Caturharjo, Wasdiyanto, menuturkan keberhasilan meraih status mandiri pengelolaan sampah pihaknya tidak lepas dari peran UAD dalam mensosialisasikan penanganan sampah di masyarakat.


    "Langkah pertama kolaborasi ini membuat tempat pengelolaan sampah terpadu tingkat desa yang memanfaatkan bekas area SMP Muhammadiyah yang telah dihibahkan ke desa," katanya, Rabu (9/8).


    Dari sini, proses edukasi mengenai pemilahan sampah ke masyarakat bergulir sejak setahun lalu mulai diintensifkan. Masyarakat oleh mahasiswa diajak untuk melakukan pemilahan mandiri.


    Kemudian dari sisi manajemen persampahan, mahasiswa UAD membentuk rumah kumpul sampah (RKS) di masing-masing pedukuhan.


    RKS ini berfungsi untuk membeli dan menampung sampah daur ulang dari masyarakat. Sedangkan sampah basah, pihak desa meminta masyarakat membuangnya di lubang galian di pekarangan rumah.


    "Tahun ini kami sudah menganggarkan pendanaan pembuatan 5 ribu lubang sampah di halaman rumah warga. Kami yakin masyarakat akan memanfaatkannya untuk pembuangan sampah basah, karena hampir seluruh warga sudah memilah sampah," terang Wasdiyanto.


    Sedangkan untuk sampah sisa atau residu, di TPA Caturharjo akan dimusnahkan melalui proses pembakaran yang uapnya ditampung menjadi liquid smoke.


    Di pasaran liquid smoke ini memiliki harga jual tinggi, seliternya bisa mencapai Rp10 juta. Ini merupakan bahan untuk parfum.


    "Masih bersama UAD, kami berencana menghadirkan laboratorium penanganan sampah di TPA Caturharjo. Nantinya laboratorium ini bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak sekolah," ungkapnya.


    Kemudian di Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro. Tuminah (59) atau penyanyi yang memiliki nama panggung Mirna Dewi sejak 2016 silam berjuang untuk menyadarkan masyarakat akan besarnya peluang ekonomis dari sampah.


    Melalui rumah Studio Edukasi Sampah Plumbungan, Mirna Dewi memberikan pelatihan pembuatan berbagai barang bernilai jual dari sampah.


    “Selain pupuk organik cair dari sampah basah dan pamper, ada produk lain seperti lilin, sabun mandi dari minyak goreng bekas. Lalu kerajinan vas bunga, tas dari berbagai sampah plastik,” katanya.


    Menggelora semangat ‘My Darling’  atau masyarakat sadar lingkungan, Mirna Dewi akhirnya mampu membuat warga empat RT di Dusun Plumbungan melakukan pemilahan sampah.


    Sebanyak 78 orang telah menjadi anggota di Studio Edukasi sampah dan hingga akhir Maret mampu mengumpulkan uang kas senilai Rp5,2 juta.


    Kerja kerasnya akhirnya mengantarkan Mirna Dewi meraih penghargaan sebagai yang terbaik dalam Gerakan Organisasi Wanita (GOW) Bantul pada 2022 lalu.


    Dukungan kemandirian desa dalam pengelolaan sampah ini juga mendapatkan dukungan dari Pemkab Bantul. Dalam waktu dekat ini Bupati Abdul Halim Muslih akan mengeluarkan peraturan dimana setiap ASN diwajibkan memilah sampah.


    “Kita tidak ingin terus menyuarakan pilah sampah namun tidak pernah memberi contoh. Jadi nanti setiap ASN akan kita wajibkan memilah sampah agar menjadi contoh warganya. Nanti kita akan membentuk satuan tugas (Satgas) untuk pengawasan,” kata Halim. (Tio)

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close