-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Anggota MPR RI, Cholid Mahmud: Pancasila Bukan Untuk Dipertentangkan Tapi Direalisasikan

    07/02/21, 13:54 WIB Last Updated 2021-02-07T06:59:44Z


    Yogyakarta, Kabar Jogja - Pancasila hendaknya tidak digeser atau direduksi menjadi sangat sekuleristik sehingga dipertentangkan dengan nilai-nilai agama. Generasi saat ini memiliki tugas berjuang merealisasikan nilai-nilai Pancasila  agar teramalkan dalam kehidupan bermasyarakat.


    Anggota MPR RI dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), H. Cholid Mahmud, M.T. mengatakan, para pendiri bangsa dan negara Indonesia dahulu  adalah para tokoh nasional dan tokoh ulama pemimpin ummat di jamannya. 


    "Beliau-beliau sudah sangat arif dan berjiwa besar menyepakati rumusan Pancasila tersebut," katanya dalam acara Sosialisasi Tata Kehidupan berbangsa dan Bernegara MPR RI di Ruang Serbaguna Kantor DPD RI DIY, Jalan Kusumanegara 133, Kota Yogyakarta, Minggu (7/2). 


    Cholid Mahmud mengatakan, adanya dinamika perdebatan dasar negara di masa kemudian, telah diakhiri dengan Dekrit Presiden Soekarno, pada 5 Juli 1959. Dekrit Presiden Soekarno itu menegaskan bahwa Piagam Jakarta menjiwai dan menjadi suatu rangkaian kesatuan dari konstitusi negara.


    "Oleh karena itu, tugas generasi kita sekarang adalah berjuang merealisasikan nilai-nilai Pancasila itu agar teramalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara konsisten, sungguh-sungguh, dan berkelanjutan," ucapnya.


    Cholid Mahmud mengataian, siapapun, termasuk rezim pemerintahan kapan pun, apabila mengeser dan mereduksi Dasar Negara Pancasila terbukti dalam sejarah pasti membawa pada keterpurukan pada kehidupan berbangsa dan bernegara.


    Menurutnya, bukan kemajuan dan kemakmuran yang dicapai, tetapi penghamburan energi anak bangsa serta percekcokan nasional dan keterbelahan dalam kehidupan bernegera. 


    Cholid Mahmud mengatakan, oleh karena itu, semua komponen bangsa perlu menyadari kinilah saatnya beraksi mengamalkan niali-nilai Pancasila.


    "Hasil konsensus pendiri bangsa kita dengan konsisten bukan hanya dalam retorika kata-kata semata, tetapi dalam kebijakan, kebersikapan, dan dalam perbuatan nyata sehari-hari kita,” tegasnya. 




    Sementara, alumnus Program Pendidikan Lemhanas (PPRA), Angkatan  LX, Tahun 2020, H.M. Wajdi Rahman, S.I.P.,M.Si. menguraikan, Sila Pertama dari Pancasila sejatinya menuntut setiap warga bangsa mengakui Tuhan yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir. Baik dalam hati dan tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari. 


    Konsekuensinya adalah Pancasila menuntut umat beragama dan berkepercayaan untuk hidup rukun walaupun berbeda keyakinannya. 


    Sedangkan Sila Kedua, intinya mengajak masyarakat untuk mengakui dan memperlakukan setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat mulia serta hak-hak dan kewajiban asasi. Dengan kata lain, ada sikap untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasinya atau bertindak adil dan beradab terhadapnya.


    Menurut Wajdi Rahman, selanjutnya Sila ketiga menumbuhkan sikap masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa, dan negara Indonesia. Ikut memperjuangkan kepentingan-kepentingannya, dan mengambil sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara. 


    Kemudian, Sila keempat mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan ikut serta dalam kehidupan politik dan pemerintahan negara. Paling tidak secara tidak langsung, bersama sesama warga atas dasar persamaan tanggung jawab sesuai dengan kedudukannya masing-masing. 


    Adapun, Sila kelima Pancasila mengajak masyarakat aktif dalam memberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing kepada negara. 


    "Demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin selengkap mungkin bagi seluruh rakyat Indonesia” pungkasnya.(dho)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini