-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Asyiknya Belajar Membatik di Kampung Batik Giriloyo

    29/12/19, 11:35 WIB Last Updated 2019-12-29T04:35:40Z


    KabarJogja.ID - Perhatiannya tak bergeming dari lembaran kain yang dipegangnya. Meski sudah hampir sekitar satu jam, ia belum mampu menyelesaikannya.

    Maria terlihat tak mau diganggu, dan lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya. Meski teman-teman lainnya lebih memilih untuk mengobrol dan saling bertanya mengenai kesulitan yang dihadapi.

    Siang kemarin di gazebo pendopo Desa Wisata Batik Tulis Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, penuh dengan siswa-siswa dari SMK Pariwisata Satya Wisma Surabaya. Sehelai kain putih dipegang masing-masing siswa, mendapatkan bimbingan dari pengurus desa wisata setempat.

    Belajar membatik kain polos yang sudah ada dasaran gambarnya. Salah satu dari peserta tersebut adalah Maria. “Baru kali ini, ternyata susah banget,” katanya dikutip dari JogjaNet.ID.

    Padahal, awalnya ia merasa bisa melaluinya dengan mudah. Hanya beberapa gambar capung, yang tinggal digoreskan dengan canting yang sudah diisi malam.

    Tetapi setelah dijalaninya, ternyata memerlukan banyak hal agar kainnya benar-benar menghasilkan batik yang bagus. Terutama adalah kesabaran dan ketelatenan. “Kesabaran tingkat tinggi kalau ini,” tuturnya.

    Desa Wisata Batik Tulis Giriloyo, memang baru muncul pada 2008 lalu. Selepas terjadinya bencana gempa bumi 2006 yang menelan lebih dari empat ribu korban jiwa.

    Desa ini pun tak luput dari peristiwa nahas tersebut. Beberapa bangunan rumah warga di sana banyak yang runtuh. “Dari bencana itu banyak relawan yang datang ke sini,” kata Koordinator Pemasaran Desa Wisata Batik, Said Romli.

    Sambil membangun kembali desa dari terpaan bencana, dari situlah muncul sebuah ide untuk mengangkat potensi yang ada. “Ide itu muncul dari bencana. Mengangkat menjadikan tempat wisata. Membangun gazebo dan pendopo,” tuturnya.

    Dari apa yang dilakukan ini, perkonomian warga setempat pun meningkat pesat. Sebelumnya, batik-batik tulis yang diproduksi disetorkan ke juragan-juragan besar di daerah Keraton Yogyakarta, kini banyak yang langsung diambil oleh wisatawan yang berkunjung. “Dulu jualnya setengah jadi, hanya diberi malam saja belum diwarnai. Tapi sekarang sudah produk siap jual,” ucapnya.

    Kampung Giriloyo sudah sejak tahun 1700an menjadi penyuplai batik di Yogyakarta. Saat ini lebih dari seribu pengrajin batik di sana. Produknya merupakan batik khas atau motif Mataraman. Di kampung ini, terdiri dari tiga dusun, yaitu Karangkulon, Giriloyo, dan Cengkehan.

    Tak hanya belajar membatik dan belanja kain batik saja, wisatawan yang berkunjung ke kampung ini dapat menikmati makanan khas lokal, berupa Pecel Kembang Turi.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    close