-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Terkini Yogyakarta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menilik Perjalanan Ki Hajar Dewantara dari Museumnya

    03/11/19, 20:05 WIB Last Updated 2019-11-03T13:05:14Z
    YOGYAKARTA, KabarJogja.ID - Pondasi pendidikan di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Mantan Menteri Pendidikan pada era 1945 silam, Ki Hajar Dewantara. Seorang pria asal Yogyakarta yang mempunyai nama kecil Soewardi Suryaningrat.

    Merupakan tokoh Indonesia yang dianggap memberikan banyak sumbangsih dari pikiran maupun pandangannya tentang pendidikan.

    Mengunjungi ke rumah Ki Hajar Dewantara di Jalan Tamansiswa Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu, bangunan serta dekorasi di dalamnya kini menjadi media pembelajaran yang dikonsep dalam sebuah museum.

    Di ruangan depan, dekat teras rumah tua itu pengunjung dapat melihat ruang peristirahatan Soewardi Suryaningrat. Dari mulai tempat tidurnya, almari tempat pakaian, kemudian meja kecil yang di atasnya mesin ketik manual disandingkan bersama beberapa alat tulis.

    "Kalau untuk mesin ketik ini sebagai replika saja, yang digunakan untuk menulis beliau," kata Listiyo, Ketua Sahabat Museum Dewantara.

    Di ruang ini, juga tertera tulisan yang dibuat Soewardi Suryaningrat pada 13 Juli 1913 silam. Mengenai kritikan terhadap Belanda yang berjudul, 'Andai Aku Menjadi Belanda'.

    Atas tulisannya itu pula, ia diasingkan ke Belanda. Karena dirasa terlalu kritis terhadap para penjajah saat itu. Namun di negeri kincir angin itu, ia malah mendapatkan banyak pengalaman.

    Mengenai pembaharu pendidikan, yang mana di Belanda masa itu sedang aktifnya perubahan metode pembelajaran. Bahwa di sana lebih ditonjolkan bagaimana menghargai murid dibandingkan menurut ke guru-gurunya.

    Di Belanda pula ia melakukan remake sebuah tembang Macapat berjudul Kinanti Sandung yang biasanya memakai Gamelan, Soewardi mainkan dengan menggunakan piano. Yang kemudian ia namakan Sariswara.

    Selepas diasingkan, ia kemudian kembali ke Indonesia. Namun dikurung di dalam penjara di Pekalongan, Jawa Tengah. Saat 1921, ketika istrinya R.A Sutartinah yang mengalami pendarahan karena akan melahirkan putri yang kedua, Soewardi diminta untuk menjenguk istrinya.

    Atas permintaan dari Pakualaman, Soewardi pun diperbolehkan untuk pulang. Saat masa pendarahan itu pula, istrinya meminta Soewardi untuk menepati janji tentang pembicara dengan K. H. Ahmad Dahlan mengenai akan mendirikan sebuah sekolah kebangsaan. "Saat itu pula, beliau berpindah haluan dari politik ke pendidikan," katanya.

    Kemudian masuk ke dalam, di ruang tengah museum tersebut terdapat bagaimana foto-foto mengenai metode pengajaran yang diterapkan oleh Soewardi. Melalui kesenian, seperti menari, drama, teater, maupun yang lainnya.

    "Metode itu yang menjadi ciri pendidikan Tamansiswa. Ambuka Laras Angesti Wiji atau membuka suara (menyanyi, menari, berkesenian) memupuk menjadi ujung tombak menjadi pendidik. Berkesenian ujung tombak mendidik anak," katanya.

    Menegaskan bagaimana pentingnya kesenian. Bukan ditujukan menjadikan anak sebagai seniman, namun lebih pada mengasah Budi pekertinya, dengan keindahan misalnya.

    "Agar memiliki watak kehalusan, seperti menari. Ketika gerakannya menunggu (suara) Gong untuk berganti, maka ditunggu. Tidak grusah-grusuh (tergesa-gesa)," ucapnya.

    Lalu, melangkahkan kaki ke sisi kiri masuk ke dalam satu ruangan. Terdapat beberapa kursi santai dan juga terpajang foto tokoh serta Soewardi sendiri.

    Di ruang sebelahnya, pengunjung juga dapat mendengarkan rekaman Sariswara. Tembang Macapat yang dialunkan oleh Soewardi memakai piano.

    "Selain sebagai seorang pendidik, Ki Hajar Dewantara memang menyukai musik. Masih banyak beberapa piringan hitam milik beliau yang sekarang disimpan di ruang lain," lanjut Listiyo.

    Jika pengunjung masih belum puas menguak bagaimana sosok Ki Hajar Dewantara, pun juga telah disediakan perpustakaan di bangunan sebelah timur museum. Di sana berisi banyak buku hasil karya Mantan Menteri Pendidikan tersebut yang juga ada beberapa yang sudah diterbitkan ulang untuk dijual.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Wisata

    +